Wed. Feb 1st, 2023

Hai sobat Tipntrik bunda dan mom tercinta. Kemandirian dalam mengorganisir diri sendiri secara sedikit demi sedikit perlu dibangun pada anak usia dini. Kegitana Toilet Training atau Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air kecil (BAK) untuk anak di Lembaga PAUD. Latihan ini harus dilakukan dalam bentuk interaksi yang menggembirakan antara pendidik dan anak usia dini.

Toilet Training bukan sekedar melatih anak memakai toilet alasannya pendidik bisa saja menuntun anak ke toilet bila dibutuhkan, tetapi intinya pendidik tidak dapat memaksan anak BAB atau BAK di sana. Intiya lebih keapda menumbuhkan pada diri anak terhadap pengenalan rasa ingin BAB atau BAK serta tempat juga cara sehat menggunakan toilet.

Anak harus mengenal gejala tekanan di kandung kemih dan ada rasa mulas ingin BAB. Kemudian anak diajarkan untuk membuat relasi antara perasaan tersebut dengan hal apa yang sedang terjadi dalam tubuhnya. Selanjutnya, anak diajarkan mencar ilmu menyikapi dengan sempurna rasa tersebut. Berarti terlebih dahulu anak sudah diajarkan perihal cara melepaskan pakaian.

Pengenalan Pada Anak Cara Buang Air Besar Dan Kecil

Penting juga mengajarkan anak cara menahan keinginannya sampai semua sudah kondusif untuk proses BAK dan BAB. Selain itu juga, anak dilatih bagaimana membersihkan kemaluannya baik depan maupun belakang, turun dari toilet dengan aman, memakai celana kembali, menyiram, mencuci tangan dengan cara benar.

Langkah-langkah Berlatih BAK dan BAB (Toilet Training)

Langkah-langkah berlatih toilet (Toilet Training) berikut ini sebagian besar diambil dari buku The Baby Book karangan Wiliam Sears, M.D dan Martha Sears, R. N (2007).

1. Pendidik mesti memastikan bahwa anak sudah siap

Menurut Sears dan Sears (2007) , kita sudah dapat mengajak anak Toilet Training jika anak sudah membuktikan gejala berikut:

  • Meniru tingkah laku orang sampaumur sewaktu memakai toilet
  • Sudah dapat mengutarakan rasa secara ekspresi mirip lapar, haus.
  • Sudah bisa mengerti usul yang sederhana mirip “Ambil bola itu”
  • Mulai mendorong celana hingga lepas sewaktu berair atau kotor, atau ketiak ia dapat menyampaikan terhadap anda bahwa ia kotor.
  • Sudah mampu duduk di atas pispot atau keloset
  • Bayi sudah tidak BAB atau BAK di celana selama tiga jam
  • Mulai meneliti anggota tubuhnya.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kesibukan Toilet Training bekerjasama dengan banyak sekali faktor kemajuan pada anak. Kapan waktu yang tepat melakukan toilet training mengacu pada 4 faktor yakni:

1. Perkembangan Fisiologis

Toilet training bekerjasama dengan kemampuan pengendalian otot otot yang mengelilingi ujung usus besar dan kantung kemih. Pada usia 12-24 bulan anak sudah matang untuk mengatur otot-otot ini. Pengendalian otot yang mengelilingi kantung kemih lebih sukar dibanding ujung usus besar. BAB lebih sukar dikendalikan sehingga latihan BAB mesti lebih dulu dilakukan. Kapan waktu yang tepat harus diawali dengan pengamatan orangtua dan pendidik terhadap tingkah laku anan dan gerakan yang dilakukan anak.

2. Keterampilan Motorik

Baik keahlian agresif dan halus dibutuhkan ketika aktivitas toilet. Keterampilan motorik halus yang diharapkan adalah keterampilan koordinasi tandan dan jemari untuk berpakaian.

3. Perkembangan kognitif dan bahasa

Proses Toilet Training merupakan variasi yang kompleks antara peran fisik dan kognitif. Anak harus mencar ilmu dan mengetahui fungsi-fungsi anggota tubuhnya, mengasosiasikan sensasi fisik dengan respon yang sesuai, mempunyai gambaran ihwal apa yang ingin dilakukan, menyiapkan untuk pergi ke WC, melepaskan pakaian dalam dan memakai WC. Kemuadian anak juga harus tahu kapan ia berhenti. Semua ini membutuhkan kenangan, fokus juga pegendalian diri. Anak mesti memiliki kemampuan untuyk mengerti klarifikasi, perintah dan arespon dari kita dan mampu untuk memadukan semuanya agar mengerti proses keseluruhan Toilet Training.

4. Kesadaran emosional dan sosial

Pada usia 2 (dua) tahun, anak sudah menjadi sadar akan potongan-cuilan tubuhnya maka pendidik/ orang renta harus berperan untuk mengajarkan pemahaman terhadap hal-hal yang berhubungan dengan BAB dan BAK, seperti rasa yang disimbolkan dengan kata-kata”pipis” untuk BAK dan “eek” untuk BAB. Juga pengenalan istilah dan penamaan alat kelamin, WC, lembap, kering, pakaian dalam dan lain-lain. Istilah yang yang diperkenalkan adalah yang tenteram untuk anak dan keluarga.

Kegiatan Pencatatan Pengamatan BAK dan BAB pada Anak Usia Dini di Lembaga PAUD

Pencatatan waktu kapan anak melaksanakan BAK dan BAB penting dilakukan sebelum aktivitas Toilet Training sehingga pendidik bisa mengetahui pola dan waktu anak akan BAB dan BAK. Catatan ini menjadi dasar menyaksikan kesiapan anak memulai Toilet Training juga menjadi panduan waktu yang sempurna kapan mengingatkan dan mengajak anak ke pispot/toilet.

Menurut Sear dan Sears (2007), pola BAB berganti secara bertahap dari satu atau dua kali sehari ketika berusia satu tahun menjadi sekali sehari dikala berusia dua tahun. Jumlah BAB setiap hari menurun tetapi volumenya meningkat. Pada dikala usia enam bulan hingga satu tahun, anak sudah jarang atau tidak BAB lagi di malam hari. Pada usia 1-2 tahun, anak batita makin jarang BAB di celana. Jika Pendidik tidak bisa mendapatkan polanya maka anak diajak dan diletakkan di pispot/jamban setiap 2(dua) jam atau lebih sering lagi.

2. Siapkan diri anda selaku Pelatih yang Baik

Jika pendidik sudah memastikan bahwa dikala Toilet Training sudah tiba waktunya maka pendidik juga harus menyiapkan diri sebaik mungkin. Adapun peralatan atau  “alat-alat” yang diperlukan ialah:
  1. Teknik komunikasi dengan anak sesuai dengan tahap kemajuan anak
  2. keseriusan dan kesabaran yang tinggi
  3. Cara memotivasi dan mengajak yang inovatif
  4. Pispot atau jamban yang ukuran dan bentuknya cocok untuk anak. Berapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan pispot ialah:
  5. diperkirakan anak menyukainya, gampang dibersihkan, keselamatan, stabilitas, dan rancangan yang menarik.
  6. Celana khusus untuk latihan ke toilet.

3. Ajari anak arah yang mesti dituju dan cara untuk menyebut hal itu

Anak dikenalkan tempat BAK dan BAB bersama-sama dengan menunjukkan penamaan pada kesibukan BAK dan BAB juga perlu disampaikan dengan tepat dan spesifik, misalnya BAB dinamai “e-e” dan BAK dinamai “pipis”. Selain itu anak perlu diajarkan sekaligus menawarkan penamaan pada belahan tutubhnya. Berikan nama-nama yang masuk akal dan lazim diterima anak dan keluarga untuk penamaan serpihan badan (penis , testis , vagina , dll) yang terlibat dalam BAK dan BAB. Kata-kata tersebut diucapkan pendidik dengan nada yang wajar mirip menyebutkan anggota tubuh yang lain.

4. Ajari Anak kekerabatan Antara Rasa ingin Buang Air dan Pergi ke Toilet

Salah satu kegiatan aktivitas dari Toilet Training ialah mengajarkan anak wacana cara menghubungkan antara rasa ingin BAB atau BAK dan pergi ke toilet kemudian duduk di pispot atau jamban yang berujung dengan melakukan BAB atau BAK di atas pispot. Ketika anak mengambarkan tanda-tanda akan BAB atau BAK maka pendidik harus secepatnya merespon dengan memperkuat penamaan tentang apa yang dicicipi anak kemudian mengajak anak ke pispot/jamban.

Data pola BAB atau BAK anak ini dapat dipakai untuk mengingatkan anak perihal rasa ingin BAB atau BAK ini. Bersamaan dengan itu anak juga ditanamakan hubungan mental antara rasa dan memberikan rasa tersebut kepada pendidik , misalnya: “sayang, mau e-e yaa, bilang ke ibu guru yaa”

Setelah anak mengetahui rasa mau BAB atau BAK, lalu mampu menamainya dan menyampaikannya kepada pendidik maka anak mulai ditingkatkan kemampuannya kearah kemandirian, misalnya dengan menyampaikan: “sudah terasa mau e-e yaa, ayoo pergi ke pispot: walaupun pada tahap awal masih diteman tetapi secara bertahap anak mulai diajarkan BAB atau BAK secara berdikari.

5. Beralihlah dari popok ke Celana yang Mudah Dilepas

Pendidik perlu melepaskan semua hal yang akan memperlambat aktivitas latihan ini. Pemakaian popok sekali pakai mampu menciptakan anak tidak mampu menciptakan relasi antara harapan BAB atau BAK dan langkah-langkah yang perlu dilakukannya. Saat ini bertambah banyak popok yang diperoduksi dengan menimbang-nimbang segera agak kering sesudah BAK di popok tersebut. Anak dibuat tenteram dan tetap tertidur di malam hari meskipun sudah berulang kali BAB atau BAK.

Ini cukup berbahaya bagi kegiatan toilet pelatihan. Akhirnya banyak pendidik dan orangtua yang membiarkan anak dalam keadaan sudah berulang kali BAK di popoknya. Lama-usang anak merasa sudah biasa dengan kondisi ini. Keadaan ini mempersulit dan memlpperlama waktu kesibukan Toilet Training.

Selain itu anak juga sebaiknya tidak menggunakan celana yang sulit atau butuh waktu yang lebih lama jika akan dibuka, contohnya: celaana jins, celana panjang yang sempit di ujung pergelangan kaki. Setelah anak beberapa ahad tidak BAB atau BAK  di popoknya maka ini saatnya mengubah popok sekali pakai dengan celana yang cukup longgar dan gampang dilepaskan anak.

6. Ajari Anak Anda untuk Membasuh, Menyiram, Mengenakan Celana dan Mencuci Tangan

Bagian terakhir yang dilatih pada anak dikala Toilet Training yaitu serangkaian aktivitas: Membasuh, menyiram, Mengenakan Calana dan Mencuci Tangan dengan cara yang tepat. Cara membasuh yang bagus adalah dari depan ke belakang. Ini bertujuan menangkal bakteri yang dapat menyebabkan jerawat akses kencing. Perlu keteguhan dan inovatif dalam memotivasi anak untuk membasuh sendiri.

Kemampuan membasuh berhubungan dengan kemampuan motorik anak. Anak berumur 2 (dua) tahun jarang mempunyai kemampuan tangan untuk mengelap dengan pantas bahkan beberapa anak tidak siap untuk melaksanakan ini sampai berumur 4 (empat) atau  5 (lima) tahun.

Penyiraman mampu berlangsung dengan gampang atau sukar tergantung anak. Ada yang senang dengan kesibukan ini tetapi ada juga yang takut dengan suara air di kloset yang agak kencang dikala tinja atau urin menghilang ke dalam  lobang kloset.

Mengenakan celana akan lebih gampang dan nyaman dilakukan anak jikalau orang renta tidak mengenakan celana yang mempersulit anak melepaskan dan memasangkannya. Anak mempunyai kecendrungan “kurang” sabar dan selalu igin cepat. Dipenghujung semua aktivitas Toilet Training” adalah mencuci tangan dengan sabun dengan cara yang tepat.

Lakukan seluruh kesibukan toilet pelatihan dengan suasana, perilaku dan kata-kata pendidik yang membuat anak merasa tenteram dan dihargai. Sama halnya dikala di saat kita melatih anak berlangsung, yang lazimnya penuh suka cita dan menilai anak yang jatuh atau takut-takut dikala mau melangkahkan kaki pertamanya. Tidak diperkenankan hukuman atau kata-kata garang dan penuh ancaman jika anak sangat lamban mengetahui aktivitas Toilet Training ini. Berikanlah kata-kata kasatmata yang memotivasi dan kata-kata kebanggaan kepada anak ketika toilet pelatihan ini dilaksanakan  di lembaga PAUD kita.

Demikianlah informasi cara mengajar anak buang air besar dan kecil dengan benar, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *